“RODAKU”
Kisah Nyata Anak Asrama
[Lebih seru jika pembaca adalah anak astra smataska]
|Kesalahan | Teledor | Tidur kelamaan itu tidak baik | Sial | Sabar | Ikhlas
| Dilarang dendam | Kekhawatiran | dipermainkan | Hato | Si “A” | Takut | Tenang
| Jaga emosi | Minta maaf | marah | aturan | adab | alasan | Tuan rumah yang buruk | putar balik fakta | jujur | Tanggung jawab
| fearless | tekad | teman | sahabat |
*Persahabatan/ teman itu mengahangatkan tubuh
dan pikiran yang sedang kedinginan.
Maaf Ayah, maaf Ibu, Maaf kakak, Maaf
Pembina…
Terima kasih teman, terima kasih kawan…
Terima kasih Mbah’e…(pahlawan pagi hari)
“Selamat membaca”
Sabtu itu perpul, hari yang
ditunggu2 oleh banyak temen aku. Pada hari itu pula temen2 pergi meninggalkan asrama
menuju rumah.
Tidak berbeda denganku,
aku juga pulang ke rumah.Tapi ada sesuatu yang membuatku agak enggan untuk pulang.
“Apakah itu…?” “JEMuran”, biasa anak asrama itu cuci pakaian sendiri.
Waktu mau pulang aku tahu bahwa jemuran aku belum
kering 1000%, dan aku tahu klo aku paksa menyimpannya akan fatal.
Setelah
berpikir pendek, aku memutuskan untuk meninggalkannya. Namun aku punya rencana,
aku akan kesini lagi esok harinya setelah dari mangkunegaran.
*MInggu, 22 Des 2013
Berangkatlah
aku dari rumah ke solo sendirian. Pagi itu kondisi hujan, memaksaku untuk dari awal
memakai mantol. Walau pun hujan aku tetap berangkat demi baju2 di jemuran.
Setelah
selesai acara di Mangkunegaran sebelum aku ke Asrama tercinta. Aku ke counter
laptop dulu keperluan install ulang. Intal ulang m’butuhkan waktu lama, Laptop kutinggal di counter itu.
Setelah
itu baru kemudian aku ke asrama. Disana, asrama zona depan, area satpam, pas
kosong. So, langsung saja masuk.
Aku liat pakain demi pakaian, hanya satu
yang belum tuntas keringnya karena terlalu berdempetan.
Aku
beresin satu persatu, aku copot hunger dari baju, celana, dll. Masukkan ke almari,
tata serapi mungkin, kondisikan sebaik mungkin. Waktu terus berjalan, aku pun
sudah merasa puas menata saat itu.
Belum
ada jam 2, tadi kata teknisi laptop jadi sekitar pukul ½ 3-3. Masih lama. Terbelesit
pikiranku untuk ke warnet, terbelesit pikiranku untuk pergi ke Gramed menyusul temanku
Nizar, biasa temen2 yang lain memanggil dengan sebutan “tompel” yang tadi sempat
jalan bareng seusai di Mangkunegaran katanya dia mau ke Gramed.
Namun
kedua usulan pikiran itu kalah dengan usulan kali ini. Tidur. Betul tidur karena
siang itu udara cocok untuk tidur, lagian capek setelah beres2, ntar masih ada perjalanan
jauh ke rumah. Jadi aku rasa tidur sajalah barang kali 10-15 menit biar
“fresh”.
Tidur siang itu kujelajahi alam mimpi sanggaaaat
jauh sekali, di hutan, di kamar mandi, dan tempat2 fenomenal lainnya.
Akun gaak habis pikir. Titlenya sih tidur siang. Namun…..jadi “tidur siang sore malam”. Well,
Ketika aku bangun, aku terkejut, aku merasakan takut
yang luar biasa, kebingungan menyelimutiku, resah gundah gulana, dan apapun itu.
Entah mengapa aku merasa bersalah, “Aku ada di mana?”. “Ayah…?,Ibu…?” kaga ada
orang di ruangan itu, sepi. Suasana larut malam aku rasakan itu, dinginnya angin
tengah malam sangat tercium.
Aku tambah panic ketika aku lihat jam, dan menunjukkan
angka “00:23”. “WHAT???!!!” “ARGGG@#$%^&*&#$%”. “KACAU”.
Bingung, sangat bingung. Perlahan aku mulai ingat apa yang terjadi siang tadi,
hari kemarin. Aku tidur siang tadi. Namun, “Mengapa baru bangun?” aku liat hp
yang saat itu aku bawa, sms banyak masuk dari kakak, sms dari ibu.
“Ana ngendi iki, kok rung tkn ngomah?”
“Tkn ngendi dik?” panggilanku oleh ibuku
“thek rung mantuk dik?” kakakku juga tak mau kalah
“Mas lptopny sdh jd bzd.Ambil” sms dari teknisi laptop
Rasa bersalah datang menusuk- nusuk costa
ini. Seribu duri seakan- akan menancap kuat di tubuh. Aku tahu yang di rumah pasti
khawatir, terutama Ibuku.“Sekenario apalagi yang diberikan tuhan untuk hariku ini?”
“Ini udah malemhari, laruuuutt, sangat laruuuut
untuk asrama yang kosong, di kamar seorang diri”. Saat bangun aku sendiri,
tidak ada orang lain di ruang itu.
Tanpa berfikir menggunakan rumusnya bu
Handa aku pun bergegas mencari BALA, entah siapa pun itu.
Aku ke lantai atas. Hangat pikiranku seketika
itu tatkala kumelihat ada orang di sana. Jak, Zahir+ Fu’ad, mereka ada di sana.
Zahir dan Jak sibuk mempersiapkan peralatan untuk acaranya beberapa hari ke depan,
di sudut ruangan ada fu’ad yang lagi tidur. Dengan
perlahan mereka mem-packing barang2 dengan hati2 dan menjaga suasana tetap
sunyi. Biasanya pem. Akan geger jika ada keributan.
“Es, Shol, ko kowe neng kene?” sempat terkejut
temanku melihat keberadaanku di hadapan mereka.
“Lho ngopo kowe neng kene?” sahut yang
satunya.
Aku hanya terdiam. Sambil menatap mereka aku
mengolah pertanyaan yang mereka lontarkan. Aku hanya tersenyum. Bukan
pertanyaan yang cukup dijawab singkat. Aku ceritakan kepada mereka, “Bla…,Bla…,
Bla…”. Ku ceritakan kepada meraka bahwa aku di asrama sejak siang dan aku tidur
dari siang tadi hingga malam ini.
“Lha kowe rene nggo opo?” kali ini si Jak
yang nanya.
“Motor” jawabku singkat.
“Lha motor saiki, parkir ngendi?” Jak pasang
wajah khawatir.
“Yo ngarep ta, daerah ring basket” Jawabku
dengan santai dan tenang.
“Motor oren kae?” Jak nanya lagi, kali ini
Zahir ikut memperhatikan percakapan kami.
“Gak, pink.”
“Iyo pink…, e…” jak agak gagap. Kemudian dia
bertutur lagi, “Bla…, Bla…, Bla…..”
Aku terdiam. Aku tidak menanggapi kalimat
terakhir darinya.
Info yang kudapat dari Jak sungguh sangat
tidak meyenangkan. Mereka(Pem) itu kurang ajar. Sangat kurang dihajar. Dalam
batin aku tidak bisa menerima perlakuan ini. Rasa benci, kesal, emosi meluap-
luap. Betapa tidak, motor yang aku bawa oleh mereka(pem.) di pindah di tengah
halaman dan saat itu pula hujan sedang turun. Tidak hanya itu, roda motor itu
di gembosi oleh mereka(pem.).
“Mau sih wes di umumne, sik nggowo motor kon
nggowo mulih.” Jak membuyarkan lamunanku.
“Di umumne opo ora yo aku ra mudeng, aku
turu Jak.” Jawabku, tanpa menoleh sedikit pun.”
“Iyo2 aku mudeng,”
“Mosok to?” aku meyakinkan kembali, info
dari Jak tadi.
“Delokken saka avoid.” Saran Jak untuk memastikan aku.
Aku pun beranjak melihat motor dari avoid.
Saat itu malam sudah sangat larut, tengah malam telah lewat. Angin dini
hari yang dingin sangat terasa di kulit masuk ke tulang. Aku mendekat ke bibir
avoid itu.
Benar disana ada motor di tengah halaman, di
hujan2kan. Ada tiga motor di sana salah satunya aku yang bawa. Persetan, Si
“A”(begitu teman2ku menyebut pembina yang satu ini) dan si “Te”. “Apa mau mereka?” batinku, mereka berbuat
seperti itu seolah tak punya dosa. Semau mereka, memang mereka anggap apa
santri di situ. Inginku membalas perbuatan mereka.
Mungkin mereka beranggap
apa yang mereka lakukan adalah sebuah penyelesaian masalah, sebuah eksekusi
dari sebuah aturan asrama, sebuah perlakuan yang pantas untuk kami. Namun, aku
merasa ini adalah nafsu mereka, aku tidak bisa menerima begitu saja.
“Apakah ini adalah sebuah
jamuan terbaik tuan rumah kepada tamunya?.” Saat itu aku termenung, berpikir
ulang, meresapi apa yang aku alami. Kesimpulan, aku tetap tidak bisa menerima
alasan mereka bahwa peng_nggembosan Roda adalah nasihat untukku. Aku rasa
dengan cara yang lebih baik masih banyak dapat dilakukan. Lagi pula aku tidak
ada niat untuk bermalam di arama malam itu.
PENTING------------------------------------------ Namun, aku yakin apa yang terjadi hari itu,
adalah sekenario terbaik dari Tuhan untukku. Mungkin saja jika aku tidak tidur
siang itu aku bisa jadi kecelakaan atau hal2 yang lebih buruk dari itu. Tapi
yang membuatku tidak enak adalah peng-nggembosan Roda oleh pem. Klo gembos
biasa sih tak apa, tapi mereka mencopot baut dop dan memasukkan dop itu kedalam
velg, dengan begitu tak mudah untukku memompanya.
“sebenarnya paginya ada kisah yang lebih
seru lagi. Tapi kurasa ini cukup dari pada nanti pembaca terlalu terpancing
untuk….” Sekian dan terima kasih. J






0 comments:
Post a Comment