Road de
Pacitan
Ini merupakan pertama kalinya aku bermalam di Pantai. Teleng
Ria, Pacitan malam hari kucoba nikmati suasana itu. “Well, let’s have some fun”
PLAN*
actually, yang punya rencana ini adalah mereka sahabat dekatku, Aim dan Baim
yang ingin melepas penat setelah UN. “Mengapa harus Pacitan?”. Satu alasan yang
kuat pilihan jatuh ke tanah Pacitan adalah karena Grandfa-nya Aim ada di sana.
Jadi pasokan logistic jadi deket, :D
Kuping
punya nguping, aku mencium aroma rencana itu. so,join ajalah,xD. + satu lagi ada Fairus tahu
rencana ini juga langsung saja “join to this adventure”.
***
H-5, ntah kenapa Baim ga jadi berangkat, katannya tidak boeh
sama ortunya. jadi kita hanya ber-tiga Aim, Aku, Fairus. Well, Fai n’ Aim
brangkat dari Solo, mereka bareng dari terminal Solo naik jurusan Pacitan. Waktu
yang sama dilain tempat aku menanti mereka di Wonogiri. Bukan waktu yang
singkat untuk menunggu kedatangan kedua sahabatku ini di Wonogiri. Beberapa bus
jurusan Pacitan telah berlalu, namun aku tahu mereka tidak ada didalamnya.
|Solo-Pacitan itu
melewati kota Wonogiri|
Lama menunggu akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke bus
jurusan Pacitan berharap mereka ada didalamnya, namun….. tak sedikit pun kepala
mereka nongol. Hufet, shit, tak
apalah ntar juga meet di Pacitan.
#Terminal Pacitan
Menunggu adalah sesuatu yang sangat membosankan, sesuatu
yang nggak aku harapkan. Tapi, disini, di terminal Pacitan, menunggu harus
kujalani lagi. Ntah mengapa mereka berdua sangat lama sekali datang di sini.
Sempat tidur, makan, sholat_mereka belum juga nongol.
“!@#$%^&*^$#” hape-ku muni, sms dari Aim “Aku ki wes nenggene mbahku, ngko tak jemput
nggo motor”. Pesan singkat, seolah-olah tim SAR akan datang menyelamatkan
korban bencana alam, lega ada kejelasan.
“Hello Bro”“Woe.., Lama banget Bung!”“Sory, gak po2 la..h.”“Yoweslah, ayo”
#Rumah si Kakek
Dari luar Rumah terlihat kecil, disambut oleh bibi Aim
dengan suguhan makanan pengganjal perut,
namun aku enggan makan itu (biasa, malu2 kucing. Penyakit org jawa=pekewuh)
tapi lama- lama makanan itu juga lenyap, abis gimana lagi perut membutuhkan
isi, hehehe.
#Si Kecil, lincah nan Jahil
Namanya aku lupa, anak dari bibi Aim ini sangat jahil
sekali. Butuh kesabaran untuk menghadapinya.
Ramah tamah dengan sang Kakek berlangsung begitu hangat
to be continue... xD“Kamu saking pundi le?”“Saking Wonogiri Mbah”jawabku“o.., lha sijine?”arah mata ke fai“Kula kertasura”“Iki kabeh konco sekolah?”“Injih mbah…”serentak ku dengan Fai menjawabnya.“Lha iki mau wes pamit Bapak Ibu during?” dengan simpul senyuman.“Nggih sampun…”







0 comments:
Post a Comment