Hari ini hari minggu. Pagi yang masih saja mengizinkaku untuk berelegi. Hmmm, sudah kuduga bahwa sesuatu yang begitu tidak nyaman ini bakal terjadi untuk kesekian kali. Bukan sekali ini saja. Waktu itu, harusnya aku taat dan tak ingkar. Namun, pengaruh semua ini begitu besar dan dengan ini aku sadar aku tidaklah kuat.
Pagi yang dingin bisa jadi terasa panas ketika lamunan ini datang. Air mata keluar serta tenggorokan yang sakit adalah hal yang tabu namun itu adalah fakta. Petuah manalagi yang patut untukku sekarang. Apa?Apa?. Resah. Resahku dalam diam dan senyum kecil tanpa jiwa.
Di sudut ruangan mata kecil kameracctv begitu setia menatapku redup. Semacam cicak yang diam-diam mengincar mangsa.Yah, dan ternyata kesabaranku kalah dengan kesabaran cicak yang menunggu mangsa.
Menit demi menit berlalu. Pada sebuah detik yang kutakbisa mengambil keputusan aku terdiam. Memikirkan tapi tak pernah kunjung bertemu ujung. Seperti nasihat dalam Agama ketika amarah semakin meninggi aku memilih tidur dan berharap pagi nanti suhu darah membaik. Namun, ada yang salah. Yang terjadi adalah seperti pagi ini. Serasa ingin kupanggil 110 biar panas ini padam. Eh salah,
110 itu nomor polisi bukan damkar.
Sudahlah, sudah~